Networking Model: Pentingnya Memahami OSI dan TCP/IP

Networking model

Saat pertama kali belajar jaringan komputer, pasti kita diajarkan tentang networking model, yaitu OSI layer dan TCP/IP layer, entah di sekolah, di kampus, atau di kursus jaringan komputer.

…atau kalau nanya-nanya ke orang, pas mau belajar jaringan komputer, mending pahamin apa dulu ya mas?
(Ini paling sering ditanyakan bagi yang mau memulai belajar CCNA)

Biasanya sebagian besar mereka akan menjawab “Belajar OSI model dulu bro, sama TCP/IP model, setelah itu belajar subnetting, dasar routing terus switching. Nanti kalau dah oke baru pelajarin teknologi WAN, blablablablaaa…”

..panjang.
Intinya kita disuruh memahami OSI dan TCP/IP dulu.

Gitu kan?

Tapi, kadang kita protes, untuk apa sih OSI dan TCP/IP itu?
[yang eneg sama teori pasti setuju]

Malah ada yang nyeletuk.
Dia bilang konsep dan teori-teori OSI dan TCP IP itu ga penting.

Kayagini:

“Bro, osi layer itu gak kepake nanti, ga penting. Di lapangan ga seindah teori-teori yang ada di buku, yang penting itu konfigurasinya, langsung praktek di lapangan. Faktanya nanti ga semua teori berjalan sesuai dengan keadaan di lapangan”.

Aneh, entah apa dasarnya mengatakan seperti itu.

Logikanya aja, kalau ga paham teori dan konsepnya, gimana bisa ngonfig?
Bisa sih, sekarang banyak tutorial di internet, tinggal ikutin.

Tapi ada masalah terbesar!

Kalau sewaktu-waktu terjadi masalah, kamu akan sangat kesulitan melakukan troubleshootingnya.

Jadi kalau ada yang mengatakan pemahaman OSI dan TCP/IP itu tidak penting, ini alasannya:

  • Dia sendiri tidak paham networking model,
  • … atau si mastah itu mau menyesatkan pemula-pemula seperti kita.

Sebelum kita lanjutkan ke pemahaman networking model, saya jelaskan sebentar betapa krusialnya pemahaman teori dan konsep jaringan komputer.

Biar nanti belajarnya gak ngalur ngidul.

Teori Saja Tidak Cukup

Memang betul, teori tanpa diikuti dengan praktek (konfigurasi) tidak cukup. Apalagi di dunia IT, khususnya jaringan komputer.

Kenapa?

Karena ilmu jaringan komputer adalah ilmu nyata. Tidak seperti layaknya ilmu sejarah, kamu bisa jadi seorang engineer tanpa tahu kapan dan siapa yang menciptakan perangkat seperti Cisco atau Juniper.

Jaringan komputer itu ilmu pasti.

Sifatnya actionable, bisa dipraktekkan dan dibuktikan saat itu juga. Sehingga tidak ada alasan untuk tidak mempelajari konfigurasinya juga.

Jangan Pula ‘Alergi’ dengan Teori

Ada juga yang bisa ngonfig cuma bermodalkan tutorial-tutorial di internet.

Lalu dia bilang udah mahir dengan otodidak.

Kalau begini, zaman sekarang siapapun pasti bisa. Asal tau ngetik keyword di search engine ples paham bahasa inggeris litel litel, selamat sudah.

Jangan pula seperti ini.
Boleh sih, tapi harus paham maksud dari step-step nya. Sayangnya kebanyakan dari kita tidak melakukannya, sing penting copas, beres 😀

Sebenarnya antara teori dan praktek dan praktek itu sama pentingnya, tapi ada satu perbedaan mendasar antar keduanya.

  • Ada yang hebat dalam teori, namun tidak begitu dengan prakteknya. Ini tidak terlalu masalah, karena dia sudah paham teorinya.
  • … yang lebih parah. Praktek, tapi tidak paham teorinya. Selain learning curve nya lebih terjal, resiko di lapangan rentan terjadi.

Maksud saya kira-kira nanti jadinya seperti ini:

Penting memahami konsep networking
Gambar 1: Dua jenis engineer

Faktanya di lapangan, ada 2 jenis engineer. Tapi umumnya adalah 2 kriteria seperti pada gambar: (ini berlaku di hampir semua bidang IT, tidak hanya network).

Kita bahas jenis engineer sebelah kanan, yang sudah paham teori dan konsep:

  1. Meskipun kemampuan prakteknya kecil, tapi hanya butuh waktu sebentar. Dia juga menikmati pekerjaan bahkan berpeluang mengembangkan, karena sudah paham konsepnya, ide-ide sering muncul untuk memudahkan pekerjaannya, contohnya dengan menerapkan cara-cara yang lebih efektif dari yang sudah dia pelajari.
  2. Tidak seperti engineer A, engineer ini menganggap masalah adalah ilmu baru yang pasti menyenangkan untuk dipelajari.
  3. Punya justifikasi yang jelas atas masalah yang dihadapi, jadi ga kesulitan kalau harus meminta bantuan ke orang lain (atau contohnya support dari pemilik produk yang dia beli).
  4. … dia juga bisa membuat laporan yang informatif.

Kira-kira seperti itu. Sedangkan engineer yang tidak paham teori dan konsep cenderung sebaliknya. Silakan pilih mau jadi yang mana.

Daritadi saya nyebut-nyebut teori, konsep, teori, konsep. Maksudnya gimana sih?

Kita tidak sedang belajar bahasa, jadi ingat ini baik-baik.

Tidak mungkin seseorang mengerti konsep kalau hanya belajar teori tanpa diikuti praktek. Gak mungkin juga paham konsep kalau praktek doang tanpa mengerti teori.

Konsep ini derajatnya yang paling tinggi kalo soal pemahaman. Jadi, untuk paham konsep. Harus bisa teori dan konfigurasi juga.

Okelah, sudah cukup ceramahnya, hehe.

Apa itu Networking Model dan Fungsinya

Sesuai namanya, networking model adalah sebuah model atau referensi dalam pengembangan dan pemahaman komunikasi data di jaringan.

Terlalu kiri? Mari saya jelaskan dengan otak kanan.

Jaringan komputer itu kan kompleks banget, dari perangkat-perangkatnya, media penghubungnya, sampai aplikasi yang berjalan didalamnya.

… dan itu semua di produksi oleh vendor yang berbeda-beda.

Disinilah fungsi networking model, perannya adalah untuk memisahkan fungsi-fungsi jaringan komputer tadi.

Caranya?

Dengan membuat beberapa lapisan dari fisik, hingga non fisiknya. Nah, di setiap lapisan ini terdapat kumpulan-kumpulan aturan yang harus diikuti oleh setiap komponen, agar bisa berkomunikasi dengan komponen yang lain.

Dengan kata lain, tujuan dibuatnya networking model adalah sebagai acuan aturan yang harus diikuti oleh produsen perangkat (vendor). Ini jadinya jaringan komputer setelah memiliki model:

Fungsi networking model
Gambar 2: Tujuan dibentuknya networking model

Tidak seperti jenis jaringan sebelah kiri yang acak-acakan, dengan adanya networking model, maka setiap fungsi jaringan komputer sudah berjalan sesuai aturan. Tidak hanya untuk vendor, kita pun sebagai pengguna memahaminya gampang, penerapannya pun mudah dilakukan.

Manfaat Networking Model

Gambar diatas menunjukkan tujuan utama dibuatnya networking model. Disitu saya menggunakan OSI model, alasannya dan perbedaannya dengan TCP/IP akan dijelaskan dibawah.

Kita rangkum manfaat networking model bagi kita secara umum:

  1. Supaya kita tau gambaran besar jaringan komputer itu seperti apa
  2. Membantu memahami bagaimana perangkat keras dan perangkat lunak bisa berfungsi secara bersamaan
  3. Troubleshooting lebih mudah karena jaringan sudah dipisah menjadi bagian-bagian yang mudah dikelola
  4. Istilah-istilahnya sudah didefinisikan, seperti application, transport, network. Ini membantu kita untuk membandingkan fungsional dasar dari hubungan jaringan yang berbeda.
  5. Agar pengguna lebih mudah paham terhadap teknologi yang baru dikembangkan
  6. Kita jadi lebih mudah memahami fungsionalitas produk yang dikeluarkan oleh suatu vendor

OSI dan TCP/IP Bukan Sebatas Teori

Ini contoh real sedikit kalau pemahaman OSI dan TCP/IP itu penting dan sering digunakan sehari-hari.

Seorang network engineer hampir tiap hari pasti menggunakan perintah-perintah ini:
Pertama: command ping, atau traceroute

gns3@Client-A:~$ traceroute 172.16.20.20
traceroute to 172.16.20.20 (172.16.20.20), 30 hops max, 38 byte packets
 1  192.168.10.1 (192.168.10.1)  0.009 ms  0.011 ms  0.988 ms
 2  1.1.1.3 (1.1.1.3)  1.826 ms  0.008 ms  0.005 ms
 3  172.16.20.20 (172.16.20.20)  1.891 ms  0.008 ms  0.567 ms

Contoh kedua: Kalau ga paham layer 2, pasti sering ngelakuin kesalahan ini:

C2960-A#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
C2960-A(config)#int g0/1/0
C2960-A(config-if)#ip add 192.168.10.17 255.255.255.0
                       ^
% Invalid input detected at '^' marker.

… atau Contoh 3:  bingung kenapa si Router A ga mau ngobrol ke Router B, padahal udah up, tapi ga bisa bedain antara status dan protocol dari output perintah show ip interface brief.

Oh ya, kira-kira begini topologi yang barusan kita obrolin.

Penggunaan networking model

Traceroute tadi buat mastiin kalau packetnya memang lewat jalur tunnel, bukan router C7200 diatas. Jadi, ping saja tidak cukup. Ini contoh layer 3 network.

Contoh layer 2 data link, switchport tidak bisa diberi IP.. atau enkapsulasi harus match antar peer agar link bisa nyala. Ini bisa diliat dari status protocol interface tadi.

Contoh layer 4 tranport, buat matching rules access list atau firewall yang kita buat, protocol apa saja yang allow dan disallowed.

…dll. Masih buanyaak lagi contoh yang lain dan terlalu panjang kita bahas disini.

Digunakan oleh Semua Praktisi IT

Dikit lagi deh.
Contoh: Linux admins juga harus paham OSI dan TCP/IP.

user@server:~$ sudo netstat -tulpn
Active Internet connections (only servers)
Proto Recv-Q Send-Q Local Address           Foreign Address         State       PID/Program name
tcp        0      0 127.0.0.1:3306          0.0.0.0:*               LISTEN      1323/mysqld     
tcp        0      0 0.0.0.0:22              0.0.0.0:*               LISTEN      1277/sshd       
tcp6       0      0 :::80                   :::*                    LISTEN      1441/apache2    
tcp6       0      0 :::21                   :::*                    LISTEN      1299/vsftpd     
tcp6       0      0 :::22                   :::*                    LISTEN      1277/sshd       
udp        0      0 0.0.0.0:68              0.0.0.0:*                           1152/dhclient   
udp        0      0 0.0.0.0:68              0.0.0.0:*                           1151/dhclient   

Ini intinya:

OSI dan TCP/IP tidak hanya perlu dipahami bagi mereka yang bergelut di dunia networking, tapi semua praktisi IT.
Contoh: “should a web developer understand a TCP/IP

Perbedaan OSI Model dan TCP/IP Model

Daritadi saya bilang networking model, OSI model, TCP/IP model mungkin jadinya membingungkan. Ckckck, dasar teori.

Networking model itu ada 2 yaitu OSI dan TCP/IP.

  • Networking sekarang menggunakan TCP/IP model. Ini karena TCP/IP lebih less-formal dibanding OSI
  • Sebaliknya, karena OSI lebih kompleks, maka sering digunakan untuk kebutuhan edukasi. Saat kita berbicara networking model, anggap saja mengacunya ke OSI (agar mudah dimengerti).

Setiap lapisan bertanggung jawab mendukung lapisan diatasnya dan menawarkan layanan ke lapisan yang dibawahnya. Lapisan atas mengarah ke perangkat lunak, sedangkan lapisan bawah mengacu ke perangkat keras.

Gambarannya kira-kira begini:
[Klik gambar untuk memperbesar]

Diagram OSI Model
Gambar 3: OSI model diagram
Source: https://id.pinterest.com/pin/232357662005329874/

Kompleks banget kan? Tapi sebagian besar ga perlu diambil pusing.

Ini yang perlu kamu pahami di awal:

1. Hapal Nama Lapisan dan Fungsi Utamanya

Kalau kamu pernah melamar kerja untuk posisi Network Engineer, paling tidak pernah ditanya begini: “Sebutkan 7 lapisan OSI dan jelaskan fungsinya”.

Ya kan? Pasti.

Kalau ga hapal nama lapisan-lapisannya apa aja, ga mungkin bisa menjelaskan.

Perbedaan OSI dan TCP/IP
Gambar 4: Perbandingan OSI layer dan TCP/IP layer

Terserah mau gunakan cara apa untuk menghapalnya.
Fungsi-fungsinya akan saya jelaskan pada bab selanjutnya.

2. Pahami Cara Kerjanya

Kalau cuma menghapal nama-nama layer di OSI mah, ga sampe 5 menit juga udah kelar. Ya gak?

Kita juga harus tau, di setiap lapisan terdapat protokol apa saja, dan aplikasi apa yang menggunakan protokol tersebut.

OSI model: devices and protocols
Gambar 5: Devices dan protokol setiap lapisan OSI

Cukup pahami protokol-protokol seperti diatas saja.

Contoh alurnya (secara umum), sebut saja seorang client membuka browser untuk mengakses suatu web. Client melakukan request http, port berapa yang digunakan, mekanisme transport seperti apa yang terjadi, apakah TCP, atau UDP.

Bagaimana pula jika laman yang diminta belum dikenali, dan harus melakukan request DNS. Proses transport seperti apa yang terjadi dalam hal ini.

Seterusnya hingga sampai ke layer fisik dan perangkat bisa bertukar informasi. Proses ini kita kenal dengan enkapsulasi — de-enkapsulasi, yang akan kita bahas pada bab selanjutnya.

3. Kenali PDU Setiap Lapisan

PDU atau Protocol Data Unit, sebuah unit data dari protokol tertentu dari tiap layer, yang mengandung informasi data.
Bingung kan?

Intinya nanti PDU ini memiliki field-field informasi yang harus dibongkar, dan kemudian dibungkus kembali. (enkap, de-enkap).

Ini penting, pada bab selanjutnya akan terus menerus kita singgung, jadi mohon ingat baik-baik:

  1. Layer 5-7, application, session, presentation: Data
  2. Layer 4 transport: Segment
  3. Layer 3 network: Packet
  4. Layer 2 data link: Frame
  5. Layer 1 physical: Bit

Disini jangan bingung kalau kadang ada yang menyebutkan “pengiriman data antar perangkat di jaringan”, anggap saja itu mencakup semua PDU diatas.

Jangan pula salah menempatkan: ketika berbicara routing, menyebutkan transmisi frame, atau ketika berbicara switching, menyebutkan data atau segment.

Kesimpulan

Baiklah, diatas saya sudah menjelaskan betapa pentingnya memahami networking model (OSI dan TCP/IP), perbedaan antara keduanya, serta 3 hal yang patut diingat untuk memahaminya.

Silakan lanjut ke bab berikutnya untuk pembahasan OSI, TCP/IP serta enkapsulasinya.

Semoga bermanfaat.

23 Comments

  1. wakakaka gue termasuk yang jago praktek oon di teori. dosen gue di cisco academy sampe ngomong “lu percuma aja kalo praktek jago selangit tapi teorinya nol. lu baca sono buku tcp/ip 50 kali baru balik sini”. wkwk yatapi apa daya gue kalo belajar teori apalagi ingat mengingat oon 😦

  2. Om group di telegram nya aktif dong om, pasti sangat bermanfaat ditambah ada kulgram dan tentunya beragam pertanyaan, pasti sangat bermanfaat hehe..

    1. Mas Hanif, hingga sekarang group telegram @belajarnetworking masih cukup aktif kok. Jangan sungkan-sungkan bertanya atau membuka diskusi baru disana yah. Hehe.

      Memang sebagian member sedang ada kesibukan masing-masing saat ini sehingga intensitas chatnya agak berkurang. Termasuk saya sendiri (*kibas poni)

      Tapi pasti ada yang merespon kok. Jangan khawatir.

  3. Hai gan,aku siswa smk kelas 3,jurusan tkj juga. ane termasuk nol di teori jadi pas praktek ane ga begitu paham,googling sana sini penjelasannya juga bikin tambah bingung ahaha 😀 akhirnya nemu postingan ini,membantu bgt,penjelasannya gak ribet,ringkas,mudah dipahamiii 😀 nice post :))
    sering update ya gan,makasihh ^^

    1. Halo Ran,
      Iya sama-sama, semoga bermanfaat.

      Belajarnya jangan lompat-lompat, mending paham sedikit, daripada belajar banyak tapi tidak ada yang dipahami, hehe.

      Nah kalau ada yang belum paham bisa ditanyain sama pengajarnya, jangan sampai dasarnya terlewatkan.

  4. @Ainun & Novia: OSI model dipakai sebagai referensi pembelajaran, atau referensi penamaan layer, namun sebenernya tidak digunakan pada praktiknya. Justru yang digunakan perangkat2 adalah TCP/IP

    Penjelasannya bisa kamu baca di bab kedua dan ketiga.

  5. Thank you gan,bermanfaat banget. Semoga panjang umur dan tambah semangat bikin artikelnya. Ane suka cara jelasinnya ga kiri banget… Tp kalo boleh kasih masukan,coba dibuat kurikulum dibuat link postingannya biar yg awam kaya ane bisa lebih paham harus darimana mulai belajar.

    1. Terima kasih sarannya, ditampung dulu yah. Nanti dibuat laman mapping dan kurikulum topiknya.

      Untuk saat ini di setiap materi akan diberitahu ‘prerequisites’ atau prasyarat yang harus dipahami terlebih dahulu jadi engga lompat-lompat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.